Desa
Kemiren adalah salah satu Desa Adat di Banyuwangi. Desa wisata ini terletak di
Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Desa Kemiren terkenal dengan kebudayaan Osing
yang kental, dimana pemerintah pun menetapkan sebagai cagar budaya dan
pengembangan Desa Wisata Suku Osing.
Dari
sejarah diceritakan bahwa masyarakat desa Kemiren berasal dari orang-orang yang
mengasingkan diri dari Kerajaan Majapahit, di masa keruntuhan terakhir tahun
1478 M. Masyarakat yang mengasingkan diri tersebut juga tersebar di wilayah
Gunung Bromo (Suku Tengger) di Kabupaten Probolinggo dan beberapa lari ke Pulai
Bali. Mereka yang tinggal dan menetap di Banyuwangi akhirnya mendirikan
kerajaan Blambangan dengan corak budaya Hindu – Buddha, sama seperti Majapahit.
Kerajaan Blambangan
itupun berkuasa selama 200 tahun sebelum jatuh ke kekuasaan kerajaan Islam
Mataram, tahun 1743 M. Sampai saat ini, beberapa penduduk yang ada di desa
Kemiren masih melakukan beberapa kebiasaan dan kultur yang sama sejak jaman
nenek moyang mereka. Salah satunya bisa dilihat dari cara mereka bercocok
tanam. Masyarakat desa Kemiren menggelar tradisi selamatan sejak menanam benih,
saat padi mulai berisi, hingga panen. Saat masa panen tiba, petani menggunakan
ani-ani diiringi tabuhan angklung dan gendang yang dimainkan di
pematang-pematang sawah. Saat proses menumbuk padi pun, para wanita memainkan
tradisi Gedhogan, yakni proses memukul-mukul lesung dan alu sehingga
menimbulkan bunyi layaknya musik instrumental.
Setelah
ditetapkan menjadi Desa Wisata Using, tahun 1995 Bupati Purnomo Sidik membangun
anjungan wisata yang terletak di utara desa. Anjungan ini dikonsep menyajikan
miniatur rumah-rumah khas Using, mempertontonkan kesenian warga setempat, dan
memamerkan hasil kebudayaan.
Di
tempat rekreasi dibangun fasilitas wisata seperti kolam renang, tempat bermain,
dan tentu saja ada bangunan rumah khas masyarakat Osing serta bangunan museum
modern yang mamajang berbagai perlengkapan dan pernik budaya Osing. Cukup dengan
uang Rp 5.000 untuk tiket masuk, wisatawan bisa menikmati fasilitas rekreasi
sepuasnya.
Wisata
Desa Adat Kamiren ini juga penuh dengan atraksi. Salah satunya adalah Barong
Osing. Barong berciri khas sebagai wujud Singa bersayap dan bermahkota yang
juga bisa dilihat Singa bersayap di Paduraksa cungkup makam Sunan Drajat,hewan
ajaib,angker,mata melotot,bertaring,dagu bergerak dan dimainkan oleh dua orang.
Desa
Adat Kemiren Banyuwangi menawarkan eksplorasi budaya lokal yang sangat menarik
untuk dicoba. Jadi, berwisata ke Banyuwangi juga bisa sebagai bentuk
melestarikan budaya. Di acara ini semua pengujung terpukau Ritual Barong Ider
Bumi di desa Kemiren.
Berikut
kebudayaan yang dilestarikan di Wisata Desa Adat Kamiren : Sanggar Genjah Arum
Sanggar ini ibarat sebuah museum yang berada di Desa Adat Kemiren Banyuwangi.
Tempat tersebut milik pribadi yang dikelola oleh seorang pengusaha untuk
melestarikan kebudayaan tradisional Banyuwangi. Masuk ke dalam sanggar ini akan
membawa pengunjung serasa kembali ke Banyuwangi di masa lampau. Di sana ada
tujuh rumah adat yang usianya sudah sangat tua dan juga beberapa ornamen
kuno yang membuat suasana tempo dulu semakin terasa kental. Angklung Paglak
adalah sebutan untuk sebuah gubuk kecil yang dibuat dari bambu dengan atap
ijuk.
Berbeda
dengan gubuk kebanyakan, paglak dibangun setinggi 10 meter dari tanah dengan
menggunakan empat batang bambu sebagai penyangganya. Angklung paglak adalah
permainan musik yang dilakukan di atas gubuk tersebut. Seni musik ini menjadi
salah satu adat kebudayaan yang dilestarikan di Desa Adat Kemiren Banyuwangi
hingga sekarang.
Tari
Gandrung Pesona budaya lain yang bisa ditemui di Desa Adat Kemiren Banyuwangi
adalah pertunjukan Tari Gandrung yang sangat mempesona. Sambil bersantai di
Sanggar Genjah Arum, pengunjung akan dimanjakan oleh penari yang menghibur.
itulah sekilas mengenai desa Adat Osing Kemiren yang ada dibanyuwangi. jangan lupa untuk tetap pantau blog saya untuk mengetahui lebih banyak tentang Banyuwangi.
Ayo ke Banyuwangi, Banyuwangi Asik lur...
No comments:
Post a Comment